Kamis, 14 Agustus 2008

-surat buat bidadari-

Surat untuk bidadari.
Kupastikan kebaikan selalu menyentuhmu dan menyentuh orang-orang yang kamu sayang di sana di tanah khayangan. Bidadari, terlalu berat rasanya kuungkapkan kenyataan ini. Takut kalau justru akan memudarkan keindahan yang telah kita rangkai selama ini, tetapi setelah kutimbang-timbang, biarlah kudedah semua yang tertabir dan kuhadapi semua yang terjadi karena satu yang pasti aku hanya ingin jujur padamu dan pada perasaanku.Sejak pertamakali kau kirim serpihan cerita pada node-node tak berwarna itu tak pernah kuduga alur akan berbelok ke arah berbeda. Saat itu kufikir kau hanya akan lewat dengan singkat. Dan seperti halnya sahabat khayalan yang lain setelah beberapa waktu menyapa beku lambat laun keakraban mulai membatu. Namun kamu lain, entah apa yang menyebabkan stamina kita begitu kuat berjalan di titian unik ini untuk waktu yang begitu lama. Dan dengan lamanya kita melangkah ternyata aku merasakan sesuatu yang tak biasa di senyumku, ia tak lagi hambar. Ada yang berubah di kedalaman rasaku, ia tak lagi beku. Maafkan bidadari, dengan amat hati-hati kukatakan bahwa kau telah menjadi hiasan yang begitu berarti, di sini di sudut terjauh palung hati. Bidadari, rasanya saat mendung sedang bergayut di jalanku, kehadiranmulah yang dapat menghapus segala kegelisahan itu. Dan atas nama kegelisahan itu pula ijinkan aku untuk mengatakan ".....aku begitu menyayangimu....."
Amat naif memang, ketika kita hanya bejumpa melalui titik-titik sukma namun kurasakan kau begitu istimewa. Dan sungguh perasaan ini tak bisa dibendung oleh tirai tempuh, pun juga oleh rayuan yang bergemuruh. Bukankan Kahlil Gibran dan May Ziadah juga merajut rasa saat keduanya belum pernah berjumpa. Karena hanya hati dan kesetiaanlah yang menyatukan mereka. Bidadari, kukatakan dengan seluruh keindahan yang ada, sampai saat ini baru sekali kuucapkan kalimat sesempurna ini. Kuharapkan ini yang pertama dan yang terakhir. Dan sekarang semua telah di tanganmu. Kemana langkah kita akan menuju, navigasi ada di hatimu dan aku akan menerima semua jawaban dengan seluruh keikhlasan. Entah apa yang akan kamu katakan tapi ijinkan untuk sekali ini saja aku memanggilmu "...sayang..."
dari pengagum jauhmu
manusia

kisah ikan dan air

Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Kata Ayah kepada anaknya, "Lihatlah anakku air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati." Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengarkan percakapan itu dari bawah permukaan air, ia mendadak menjadi gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, "Hai, tahukah kamu dimana air ? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati." Ternyata semua ikan tidak mengetahui dimana air itu, si ikan kecil semakin gelisah, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal serupa, "Dimanakah air ?"
Jawab ikan sepuh, "Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita akan mati."

Apa arti cerita tersebut bagi kita ?
Manusia kadang-kadang mengalami situasi seperti si ikan kecil, mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan, padahal ia sedang menjalaninya, bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-sampai dia tidak menyadarinya..... subhanalah...
semoga kita tidak seperti ikan kecil tadi.....
waalahua'lam

ilalang patah...

sesaat jantungku senyap berdegup,
menyaksikan langkahku yang makin melumut
pada penantian yang yang lambat laun
termetamorfosa menjadi romansa-romansa kalut
diiringi gending-gending jawa kuna
lamunanpun melenggang kepada mozaik masa
yang jalin jemalin menjelma dalam penantian abu-abu
dan mengembun pelan di dasar otakku
kadang penantian itu menjadi berwarna,
kadang tanpa nuansa, kadang lupa
"ah, terlalu lama kubunuh waktu.." gumamku.

Akhirnya aku pergi ke negeri bidadari.
Atau... mungkin justru ia yang turun meluruhi bumi, menemui khayalan yang terlalu lama membubung tinggi. Saat sayup kupanggil namanya seketika dunia tanpa suara karena yang kurasa hanya ada aku, dia dan menghilangnya semua tabir dan seluruh rahasia. Ya.. tabir yang telah terpendam lama selama enamratusan surya. Lalu di bawah bayangan pelepah palma itu kurebahkan sepotong mawar di tangannya sebagai pertanda bahwa di hati ini tumbuh lebih banyak lagi kembang-kembang yang sama.
"Terimakasih" katanya, dan mulai saat itu khayalankupun menjadi terang seterang cahaya...
"Bergabunglah denganku di balik keriuhan ujung pesta akademiku" pesan pendeknya menghampiriku saat kutinggalkan ia menuju tanah yang pernah sekali kutuju. "Maafkan aku, tunggulah hingga suatu waktu aku datang kepadamu untuk melumerkan seluruh kebekuan itu dan meresonansikan rasa kita yang semoga selalu bermusim berbunga.
Dan akhirnya kubawa janji itu padamu untuk menghabiskan waktu dan memroyeksikan mimpiku yang dahulu selalu kelabu. Lalu saat sengatan matahari kenjeran itu menyerah ke dalam setiap sisi tawamu tak kurasakan lagi lelah ataupun nikmatnya buah yang kau bawakan untuk dahagaku karena yang kuinginkan saat itu hanya menikmati aliran waktu, berdua denganmu dan membuat hari ini menjadi hari yang teranugerahi karena ia tak lagi sekedar mimpi...



-ilalangpatah-